Personalisasi

Personalisasi

Written on 09/07/2020
Maria Shandi


Dear MS Friend,

Hari-hari ini segala sesuatu bisa dibuat sesuai dengan keinginan kita. Istilahnya adalah “personalisasi”.

Misalnya, baju, sepatu, tas, yang dibikin khusus buat kita dan berdasarkan permintaan dan detil yang kita berikan.

Atau makanan dan minuman yang topping (isian) nya disesuaikan dengan yang kita mau. Seperti boba atau crepe yang menyediakan berbagai varian isian yang bisa kita tambahkan sesuai selera.

Sehingga, gak heran kalo makin banyak produk barang dan jasa yang sediain pilihan “personalisasi” untuk menarik minat pelanggan.

Ini sih sah-sah aja. Karena sebagai pelanggan, kita pasti pengen beli barang atau pake jasa yang sesuai kebutuhan kita.

Tapi, jadi serem kalo sampai kotbah di mimbar pun ikutan dipersonalisasi. Wah, apakah bisa?

Sedihnya, ternyata kebenaran Firman pun bisa dipersonalisasi biar “peminatnya” ramai.

Dalam surat keduanya ke Timotius, Paulus ingatkan untuk tetap berpegang teguh kepada kebenaran Firman yang murni. Tegur kalo salah dan nasehati dengan kesabaran dan pengajaran.

Karena ada waktunya, orang gak mau lagi denger ajaran yang “sehat”. Malahan ngumpulin bagi diri mereka sendiri, guru-guru yang kotbahnya enak di telinga aja.

Giliran ditegur atau diajak berjuang hidup benar seperti Tuhan, mereka menolak mentah-mentah.

Nah gimana dengan kita hari-hari ini? Masihkah asupan Firman kita “sehat” dan mendidik atau sekedar nyaman di kuping aja?

MS