Waktu

Waktu

Written on 05/31/2019
Maria Shandi


Pernah suatu kali saya ketinggalan pesawat gara-gara keasyikan ngobrol dan lupa lihat jam ketika sedang berkunjung ke rumah teman di Malang sehabis pelayanan. Ketika saya menyadari sudah hampir telat, saya segera menuju bandara dengan kecepatan tinggi. Tapi sia-sia karena ketika saya sampai, pesawat menuju ke Jakarta sudah diberangkatkan. Akibatnya saya harus membeli tiket baru dan menunggu penerbangan berikutnya walaupun hanya terlambat beberapa menit. Ketika menunggu, saya disadarkan betapa berharganya waktu. Terlambat beberapa menit saja, saya sudah kehilangan tiket pesawat dan kesempatan tiba di Jakarta lebih awal.

Kalau untuk penerbangan saja, waktu begitu berharga, apalagi untuk kehidupan yang kekal setelah kita menutup mata. Tujuh puluh tahun rata-rata umur manusia kalau dibandingkan dengan kekekalan, tidak terhingga, tidak bisa dibandingkan. Artinya betapa singkatnya hidup ini sehingga setiap detik, menit dan jam yang kita lewati begitu berharga. Ketika saya menyadari singkatnya hidup ini, saya menjadi lebih menghargai waktu. Saya menyadari, perjalanan tujuh puluh tahun di sekolah kehidupan ini adalah perjalanan waktu mendapatkan kesempatan-kesempatan yang berharga untuk mempersiapkan diri memasuki langit dan bumi yang baru. Pada akhirnya, kualitas hidup ini bukan diukur dari gelar, jabatan, harta dan sebagainya, tapi hidup ini berkualitas ketika waktu yang ada kita gunakan secara maksimal untuk mengenal Tuhan dan melakukan kehendakNya sehingga Dia berkenan untuk melayakkan kita menjadi anakNya, bukan hanya status tapi sungguh-sungguh berkeadaan menjadi anak Tuhan untuk tinggal bersama denganNya.

Saya cukup sering melayani di kota-kota kecil yang bandaranya tidak memiliki landasan pacu yang panjang. Ketika pesawat mendarat, biasanya terasa kurang nyaman karena landasan pacunya pendek sehingga pesawat harus berhenti secara mendadak. Saya membayangkan, hidup manusia bisa digambarkan seperti landasan pacu. Semakin bertambahnya usia, landasannya semakin pendek. Kalau di masa muda seseorang tidak menggunakan waktunya dengan baik, maka kesempatan untuk berubah akan semakin pendek dan prosesnya akan semakin tidak nyaman sehingga hasilnya pun tidak maksimal. Selama kita masih muda dan memiliki kesehatan, penglihatan, pendengaran yang sempurna, kita memiliki landasan pacu yang panjang untuk dibentuk Tuhan dan kesempatan ini tidak akan bisa terulang. Melalui segala peristiwa hidup setiap hari, Tuhan sedang berbicara dan membentuk kita sehingga kita bisa bertumbuh sesuai dengan agendaNya.

Hidup ini luar biasa karena melalui kehidupan kita diberi kesempatan untuk mengenal Tuhan yang Maha Mulia. Kita diberi kesempatan untuk mengikuti jejakNya, hidup bagiNya dan dilayakkan untuk menjadi anakNya. Hidup bagi Tuhan bukan berarti harus menjadi pelayan Tuhan sepenuh waktu di gereja tapi berusaha untuk mengikuti kehendak Tuhan di setiap pikiran, ucapan dan tindakan dalam keseharian hidup kita. Oleh sebab itu, kita harus mengatur waktu dengan serius untuk gali potensi, sekolah, kuliah, bekerja, berkumpul dengan keluarga, olahraga dan yang terpenting dari semuanya adalah kita harus menyiapkan waktu khusus setiap hari untuk bersekutu dengan Tuhan secara pribadi, membaca Alkitab dan buku rohani, mendengar Firman Tuhan, ikut pendalaman Alkitab, sehingga kita semakin mengenal Tuhan dan memiliki kepekaan untuk mengerti kehendakNya. Bukan berarti tidak boleh jalan-jalan, melakukan hobi atau bersenang-senang. Kalau ada kesempatan, nikmatilah waktu-waktu tersebut, tapi bukan itu yang menjadi porsi utama waktu kita.

Walaupun harus menunggu lebih lama dan membayar tiket lebih, tapi masih ada kesempatan untuk saya kembali ke Jakarta dengan pesawat berikutnya. Seorang teman saya, setelah menderita sakit cukup parah, ketika pulang dari rumah sakit pola hidupnya langsung berubah. Dia menjaga makan, olahraga dan jam istirahatnya dengan teratur. Seorang saudara saya, sempat jatuh miskin lalu gaya hidupnya berubah menjadi lebih bijaksana mengelola uang, jujur, dan bekerja cerdas. Untuk setiap kegagalan di kehidupan yang sementara ini, kemungkinan masih ada kesempatan untuk berbalik dan berubah. Tapi jika seseorang gagal mempersiapkan diri untuk kehidupan yang sesungguhnya, ketika dia membuka mata di kekekalan, tidak akan ada kesempatan untuk berbalik. Gelar, jabatan, harta bahkan orang-orang yang selalu setia di sekitarnya tidak akan bisa menolong. Menyadari hal ini, kiranya berbagai kesibukan dan kesenangan hidup tidak mengalihkan fokus kita untuk mengumpulkan harta di Surga. Ketika kita mengenal Tuhan dengan baik dan menaati kebenaranNya, kita akan menjadi orang-orang yang produktif, jujur, berpotensi dan bekerja dengan maksimal sehingga kita diberkati secara materi di bumi untuk memperluas kerajaan Tuhan. Melalui segala peristiwa hidup, Tuhan membentuk kita sehingga memiliki karakterNya. Kita menjadi orang- rang yang unggul dalam segala aspek, terutama karakter yang bersinar karena memancarkan karakter Kristus. Mari gunakan waktu dan kesempatan emas kita dengan bijaksana. Tuhan berkati