Sahabat

Sahabat

Written on 05/31/2019
Maria Shandi


Kalau teman-teman pernah membaca kisah saya tentang janji donat, dimana saya belajar dengan rajin ketika sekolah demi untuk membanggakan rapor saya kepada orang tua dan mendapatkan donat waktu kenaikan kelas. Namun beberapa tahun kemudian, semangat belajar saya sempat menurun drastis karena pergaulan. Ketika itu saya memiliki beberapa sahabat di sekolah yang tidak suka belajar, suka keluar kelas ketika jam pelajaran dan suka menyontek. Akibatnya, dari yang tadinya suka belajar, lama-lama saya menjadi malas. Yang tadinya takut diajak bolos ketika jam pelajaran, menjadi kesukaan untuk bisa keluar kelas. Yang tadinya tidak berani nyontek, menjadi cukup "cerdas" untuk menyontek. Saya tidak lagi mendapatkan nilai rapor yang baik, bahkan pas-pasan untuk naik kelas.

Ketika mengingat kembali masa-masa itu, saya disadarkan betapa pentingnya peran sahabat. Walaupun pada awalnya saya tidak merencanakan untuk menjadi malas, suka bolos dan nyontek, tapi karena setiap hari bersahabat dengan mereka akhirnya cara hidup mereka mewarnai hidup saya dan tanpa disadari saya menjadi serupa dengan mereka. Saya menyadari betapa merugikannya bersahabat dengan orang-orang yang tidak takut Tuhan, karena tanpa disadari mereka akan merusak warna kehidupan kita. Pergaulan yang buruk akan merusak kebiasaan yang baik. Jadi, kualitas rohani seseorang bisa dilihat dari sahabatnya.

Saya sedih, malu dan menyesal ketika melihat orang tua saya dipanggil wali kelas karena nilai rapot saya yang banyak angka merahnya. Ketika itu saya disadarkan bahwa saya harus berubah dan meninggalkan pergaulan yang sia-sia dengan sahabat-sahabat saya. Akhirnya sejak hari itu, saya memutuskan untuk sekedar berteman dengan mereka tapi tidak bersahabat. Ketika bertemu, saya hanya menyapa dan mengobrol seperlunya tapi tidak lagi bergaul karib dengan mereka. Ketika jam istirahat, saya banyak menghabiskan waktu di perpustakaan dengan tujuan supaya tidak tergoda untuk kembali bergaul dengan mereka sambil belajar mengejar ketinggalan saya. Awalnya terasa sangat sulit, saya merasa kesepian dan tidak punya teman di sekolah. Tapi seiring berjalannya waktu, saya mendapatkan sahabat-sahabat yang baik. Karena pergaulan yang baik, membuat saya menjadi rajin belajar. Akhirnya tanpa menyontek, saya bisa kembali membanggakan rapor saya ke orang tua saat mendapat juara ketika kenaikan kelas.

Ketika saya bergaul dengan sahabat-sahabat lama, saya tidak berani mengajak mereka main ke rumah. Karena sejak kecil, orang tua saya mengajarkan untuk berhati-hati dalam memilih teman pergaulan. Saya tahu sahabat-sahabat lama saya tidak sesuai dengan kriteria mereka sehingga saya menyembunyikannya dari orang tua saya. Ketika mengingat hal ini, saya menyadari kalau orang tua kita saja sangat berusaha menjaga kita dari pergaulan, apalagi Bapa di Surga, karena pergaulan kita di dunia akan bedampak pada kekekalan. Kalau seseorang memiliki hubungan yang eksklusif dengan Tuhan, pasti akan memilih sahabat yang sesuai dengan kriterianya Tuhan. Seseorang akan menjadi tidak nyaman ketika bergaul dengan sahabat yang melukai hati Tuhan dan yang tidak bisa menularkan warna yang baik bagi kehidupannya. Kita adalah bait Tuhan yang hidup, artinya Tuhan mendiami hidup kita. Dialah yang menjadi Raja dan Tuhan atas hidup kita. Seharusnya kita berusaha untuk menjaga perasaan Tuhan dengan menyadari bahwa segenap hidup kita adalah milik Tuhan sehingga yang menjadi kesenangan Tuhan, menjadi kesenangan kita.

Ketika menyadari hal ini, jumlah sahabat saya semakin menyempit. Tapi bukan berarti saya membatasi diri untuk berteman. Saya berusaha berteman dengan siapa pun, seluas-luasnya, dalam lingkungan bisnis, gereja, bahkan tetangga rumah, tanpa memandang status dan kedudukannya. Tapi pertemanan saya hanyalah sebatas menyapa, berkomunikasi seperlunya dan bersosialisasi dengan tulus sebagai teman. Karena saya sadar, tanpa berteman, saya tidak akan bisa menjadi saksi dan berkat buat mereka melalui perkataan dan perbuatan. Berbeda dengan sahabat, di mana saya bisa berbagi perasaan, beban dan mencurahkan isi hati saya. Ketika saya melakukannya dengan sahabat yang benar, itu akan menularkan warna yang indah bagi hidup saya. Persahabatan yang benar akan saling mengingatkan, menguatkan dan saling menularkan semangat untuk mengasihi Tuhan lebih dari apa pun dan siapa pun. Memang, resiko untuk menghadapi pencobaan akan selalu ada tapi mari untuk tidak menciptakan sendiri resiko itu melalui bersahabat dengan orang-orang yang tidak takut Tuhan karena cenderung kita akan jatuh dan menjadi serupa dengan mereka. Mari bersosialisasi dengan cerdas dan bijak dimanapun kita berada. Pancarkan kehangatan, kebaikan dan karakter Kristus kepada semua orang, tanpa terkecuali. Bertemanlah dengan semua orang, tapi bersahabatlah dengan orang yang berintegritas dan mengasihi Tuhan karena mereka akan mempengaruhi cara kita hidup dan masa depan kita. Tuhan berkati