Surat Cinta

Surat Cinta

Written on 05/31/2019
Maria Shandi


Ketika sedang membereskan barang-barang lama, tiba-tiba saya ketemu surat ini. Ini adalah salah satu dari sekian banyak surat yang saya tulis ketika masih kecil buat ayah yang biasa saya panggil daddy. Saya jadi bernostalgia kembali. Sejak kecil, saya dan daddy memiliki hubungan yang sangat dekat. Hampir setiap hari kami punya waktu bersama. Saya ingat dulu kalau pulang sekolah rasanya senang sekali, tidak sabar ingin segera sampai di rumah karena ingin ketemu daddy. Walaupun saya yakin daddy lelah, tapi daddy selalu berusaha meluangkan waktu untuk ngobrol, bercanda dan bermain bersama saya, bahkan tidak jarang menemani saya belajar atau latihan musik sehingga saya lebih semangat.

Pernah ada saat dimana karena urusan pekerjaan, daddy harus keluar kota hampir setiap bulan. Ketika tahu daddy akan pergi meninggalkan saya untuk beberapa hari, saya sedih sekali. Saking sedihnya, saya mengekspresikan perasaan saya melalui sebuah surat. Sambil menangis, saya tumpahkan isi hati saya di surat itu. Tak cukup sampai disitu, saya mulai mengumpulkan uang jajan saya setiap hari sampai daddy akan pergi. Lalu uangnya saya masukan ke dalam amplop beserta suratnya dan dengan polosnya saya katakan kalau uang itu bisa dipakai jika daddy kehabisan uang disana. Walaupun hanya berkisar seribu sampai sepuluh ribu rupiah jumlahnya bahkan tak jarang pakai recehan, uang yang saya kumpulkan itu bernilai cukup besar bagi saya saat itu, karena membuat saya tidak bisa jajan selama beberapa hari di sekolah. Tapi entah mengapa saya melakukannya tanpa beban dan dengan penuh sukacita. Waktu berlalu, tapi kenangan ini akan selalu ada di hati.

Seperti kedekatan saya dengan daddy, saya menyadari bahwa hubungan kita dengan Bapa di Surga harusnya dibangun melalui keseharian hidup kita. Kekristenan tidak diukur dari ritual ke gereja setiap minggu atau aktif melayani di gereja, tapi dari sikap hati kita sehari-hari yang ingin selalu dibaharui untuk menjadi sempurna seperti Tuhan Yesus. Hubungan kita dengan Bapa di Surga bukanlah seminggu sekali tapi setiap hari, setiap saat, dalam seluruh gerak hidup kita. Ironisnya, Tuhan seringkali dijadikan sebagai penopang untuk kebutuhan jasmani. Rajin ke gereja dan berdoa hanya untuk mengeksploitasi Tuhan untuk memenuhi kebutuhannya. Padahal mereka sendiri tidak ber-Tuhan dengan benar dan mereka menjadi tuhan atas dirinya sendiri. Seharusnya ibadah setiap orang percaya tidak terikat oleh ruang dan waktu tapi meliputi segenap wilayah hidup dan segenap waktunya. Ketika saya ingin segera tiba di rumah supaya bisa bertemu dengan daddy, artinya saya sedang memikirkan daddy walaupun tidak nampak dari penampilan luar saya. Sama halnya dengan kehidupan orang percaya yang dalam kesehariannya bergaul dengan Tuhan, ini tentang sikap hati atau batiniah yang selalu haus dan lapar akan pribadiNya, bukan ritual atau penampilan lahiriah yang bisa dilihat orang walaupun pada akhirnya tercermin dari karakternya yang bersinar karena memperagakan karakter Kristus.

Ibadah yang sejati bukanlah diukur dari ritual di gereja seperti melipat tangan, berlutut, menangis dan sebagainya. Saya menyadari bahwa yang disukai Tuhan bukanlah penampilan lahiriah tapi isi perjalanan hidup kita setiap hari. Saya ingat, dulu setiap kali menyambut daddy pulang kerja, saya biasanya berlari keluar rumah kegirangan, masuk ke dalam mobil lalu memeluk daddy dengan erat. Melalui pengalaman ini, menyadarkan saya bahwa seharusnya apa yang kita lakukan di gereja seperti mengangkat tangan, bersorak sorai dan sebagainya, itu semua adalah ekspresi dari hubungan keseharian kita dengan Tuhan, seperti saya mengekspresikan kedekatan saya dengan daddy setiap hari melalui sambutan dan pelukan. Tidak dibuat-buat karena mengharapkan sesuatu tapi terekspresikan secara otomatis. Jadi, hidup rohani seseorang bukan ditentukan oleh aktivitasnya di gereja tapi motivasi terdalam kehidupannya yaitu hidup bagi Tuhan.

Saya mempercayai daddy sebagai ayah yang baik. Dan kepercayaan saya bukan hanya sekedar mengakuinya melalui perkataan atau pikiran tapi saya ekspresikan dengan berusaha melakukan apa yang bisa menyenangkan daddy. Saya ingat dulu ketika daddy pulang kerja, seringkali saya buatkan susu coklat karena saya tahu daddy suka. Lalu biasanya saya pijitin daddy dengan jurus “jempol sodok” andalan saya dengan harapan capeknya daddy hilang. Semua itu saya lakukan dengan satu tujuan yaitu buat daddy senang. Sama halnya ketika seseorang mengaku percaya atau beriman kepada Tuhan, tidak cukup hanya mengaku melalui perkataan atau pikiran tapi harus disertai dengan tindakan nyata yang selalu berusaha untuk menyenangkan dan melakukan kehendak yang dipercayainya yaitu Tuhan Yesus. Tuhan menghendaki setiap orang percaya untuk menyembahNya dalam roh dan kebenaran dimana seseorang mengisi hari hidupnya sesuai dengan gaya hidup Tuhan Yesus. Sikap ini adalah sikap batin atau sikap hati yang diwujudkan dalam perilaku sepanjang waktu di mana pun berada, bukan sekedar dalam liturgi di gereja.

Melalui kedekatan saya dengan daddy, saya menjadi mengerti bahasanya daddy. Seringkali ketika daddy sedang berbicara suatu hal, saya sudah bisa menebak maksud dan arah pembicaraannya. Tak jarang saya langsung menyambungkannya dengan tebakan saya dan biasanya benar, lalu kami ketawa cekikikan. Melalui gambaran sederhana ini, ketika kita bergaul setiap hari dengan Tuhan, kita menjadi mengerti bahasaNya Tuhan. Kita semakin mengenal pribadiNya, semakin memiliki kepekaan untuk melakukan kehendakNya dalam setiap kata yang kita ucapkan dan dalam setiap langkah yang kita lakukan. Kita bukan hanya melakukannya tanpa pengertian tapi juga mengerti tujuan dan esensi dari kehendak Tuhan. Selanjutnya, Tuhan melalui Roh Kudus menuntun kita kepada segala kebenaran dan kita memberi diri untuk diperbaharui dari hari ke hari.

Semua surat cinta dan uang jajan yang terkumpul untuk daddy adalah ekspresi dari kepercayaan dan cinta saya ke daddy. Saya memberikan uang jajan saya beserta surat cinta saat itu tanpa adanya paksaan dari siapapun dan tanpa mengharapkan daddy akan menggantikannya berlipat kali ganda. Gambaran sederhana ini menyadarkan saya, sama halnya ketika kita mengaku percaya dan mengasihi Tuhan, kita akan dengan sukarela memberikan segenap hidup kita termasuk waktu, harta dan apapun yang paling berharga yang kita miliki untuk Tuhan seturut kehendakNya. Dan semuanya itu kita lakukan bukan karena ritual, rutinitas ataupun motivasi agar Tuhan membalas berlipat kali ganda tapi digerakan atas dasar hati yang tulus mengasihi Tuhan dan ingin menyenangkan hatiNya. Mari jadikan segenap hidup kita sebagai ibadah yang sejati dan berkenan di hadapan Tuhan. Tuhan berkati