Tragis

Tragis

Written on 06/04/2019
Maria Shandi


Beberapa waktu lalu, aku mendapat kesempatan melayani di sebuah daerah di Indonesia. Karena yang mengundangku adalah salah satu perusahaan besar di daerah tersebut, aku diberikan segala fasilitas yang terbaik. Mulai dari kendaraan, tempat tinggal serta makanan terbaik selama di sana. Lalu aku diajak berkunjung ke pabrik perusahaan tersebut yang tergolong sangat mewah. Namun ada satu pemandangan yang membuat hatiku miris, dimana ada anak-anak kecil sedang mandi sambil minum dari keran air, tepat di samping pabrik yang aku kunjungi. Ternyata penduduk di sekitar situ harus menyeberang menggunakan rakit dari rumahnya setiap kali ingin mendapatkan air bersih. Bahkan di sepanjang jalan rumah warga tidak ada lampu jalan penerangan. Aku menjadi susah hati ketika melihat kenyataan di kala aku bisa menikmati semua fasilitas yang terbaik selama disana namun ada orang-orang di sekitarku yang hanya untuk mendapatkan air saja begitu sulit. Aku berpikir seandainya aku bisa mendapatkan kebahagiaan dari segala yang terbaik di dunia ini, tinggal di rumah paling mewah, menikmati makanan yang berlimpah, memiliki segala fasilitas yang terbaik, namun ketika melihat ada orang-orang di sekitarku dalam kondisi seperti ini, kebahagiaanku tidak akan bisa ideal.

Kejatuhan manusia ke dalam dosa membawa semua manusia ke dalam satu keadaan yaitu tragis. Dosa membuat bumi ini menjadi tempat yang tidak lagi ideal untuk dihuni. Coba bayangkan, kita hidup di dunia yang tidak semakin baik. Bencana alam terjadi di mana-mana, kejahatan dan korupsi yang semakin meningkat. Tidak ada satu tempat pun yang aman di dunia ini. Kemiskinan dan kesusahan hidup yang seakan tidak berujung. Ketika kita lahir dan mulai membuka mata, kita bertemu dengan orang-orang yang mencintai dan kita cintai entah itu orang tua, sahabat, pasangan hidup, tapi ada saatnya mereka akan pergi meninggalkan kita dan dunia ini pada waktu yang tidak kita ketahui. Waktu kecil, kita mulai menghadapi kesulitan hidup pertama di sekolah, berlanjut sampai ke bangku kuliah. Lalu kita mulai dihadapkan dengan dunia kerja yang menyita energi dan pikiran kita. Ditambah adanya masalah keluarga, kesehatan dan masalah lainnya yang terus berlanjut sampai kita menutup mata. Ketika tiba saatnya kita pergi meninggalkan dunia ini, tidak ada sesuatu atau seorang pun yang dapat kita bawa, semua ditinggalkan. Inilah kenyataan betapa tragisnya hidup ini.

Oleh sebab itu, jadikanlah dunia ini hanya sebagai tempat persinggahan sementara, bukan sebagai pelabuhan kita. Hidup yang singkat ini menjadi luar biasa karena dalam sekolah kehidupan ini, kita harus memilih siapa yang menjadi kekasih abadi kita. Iblis selalu berusaha membuat manusia menjadi kekasihnya dengan membiarkan mereka hidup sesuka hatinya. Iblis yang cerdik berada di pikiran manusia dan selalu berusaha menyesatkan supaya mereka tidak hidup seturut hati Tuhan. Tragisnya hidup ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tragisnya kenyataan jika kita terpisah dari Tuhan selamanya.

Tuhan ingin mengubah kisah tragis hidup ini menjadi kisah kebahagiaan dan hanya bisa terwujud kalau kita melekat kepadaNya. Tujuh puluh tahun hidup di dunia ini adalah petualangan hebat untuk membuktikan cinta kita kepada Tuhan dengan hidup menurut kehendakNya. Tujuh puluh tahun adalah perjalanan waktu yang akan menentukan nasib kekal kita, berada di Surga yang kekal atau neraka yang kekal. Perjuangan kita dimulai sekarang di dunia ini dengan menjalin keintiman dengan Tuhan dan terus bertambah dari waktu ke waktu. Keintiman dengan Tuhan baru bisa kita miliki setelah kita melepaskan beban dan dosa. Beban berbicara tentang segala sesuatu yang menjadi sumber kebahagiaan kita selain Tuhan, entah itu harta, gelar, jabatan, hobi, pasangan hidup atau kesenangan hidup lainnya. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki itu semua, tapi kita tidak terikat di dalamnya dan itu semua hanya menjadi sarana supaya kita semakin efektif bagi Tuhan. Dosa berbicara tentang segala hal yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan, baik pelanggaran moral secara umum dan juga segala pikiran, ucapan serta tindakan kita yang tidak sesuai dengan kehendakNya. Sampai akhirnya kita bisa sungguh-sungguh menghayati bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang paling berharga dalam hidup ini.

Ketika kita melatih diri setiap hari untuk melekat kepada Tuhan, ini tidak akan mengurangi kasih kita kepada sesama ataupun kinerja kita. Justru kita akan mengasihi sesama kita sebagaimana Tuhan mengasihi mereka karena kita mengenakan pikiran dan perasaanNya. Kita akan semakin bertanggung jawab dan produktif dalam sekolah, kuliah, bisnis, keluarga karena kita ingin membuktikan cinta kita kepada Tuhan dengan menjadi maksimal pada bidang kita sehingga kita bisa memancarkan Tuhan melalui peranan kita. Ketika kita memandang masa depan dunia ini, kita menjadi pesimis karena Alkitab pun mengatakan dunia ini tidak akan semakin baik. Tapi ketika kita memandang langit dan bumi yang baru, kita menjadi optimis karena di sanalah kehidupan ideal yang sesungguhnya. Di belakang langit biru, di situlah rumah kita. Kita akan tinggal bersama kekasih abadi kita dan berkumpul bersama orang-orang yang kita cintai dan mencintai Tuhan dalam kebahagiaan Surgawi sampai selamanya.