Versus

Written on 02/16/2021
Maria Shandi


Dear MS Friend,

Dalam satu kesempatan, Paulus “curhat” soal pertentangan yang dialaminya dalam menjalani hidup.

Di suratnya kepada jemaat di Roma, dia sampaikan bahwa justru semakin kita tahu tentang Hukum Taurat dan kebenaran, maka semakin nyata dosa di dalam kita.

Misal, kita dulu gak begitu menghayati, kalo membenci saudara saja sudah dianggap “membunuh” di hadapan Tuhan.

Karenanya, kita membenci, menyimpan dendam dan sakit hati sesuka kita. Sebab pikir kita: “Yang penting ‘kan saya tidak menyentuh tubuhnya. Masalah benci dia atau tidak, itu urusan saya sendiri”

Tapi, ketika kita belajar sungguh tentangNya, kita jadi paham bahwa dendam kita gak berkenan di mataNya.

Sehingga kita jadi terganggu hati nuraninya setiap kali rasa benci itu terbit di hati kita. Kita mau belajar lega, tapi refleks benci itu masih sering ada.

Pertentangan inilah yang juga bahkan dialami oleh seorang Rasul besar seperti Paulus.

Bahwa dengan pikiran, akal budi dan hati nuraninya ia berjuang untuk taat pada Tuhan, tapi tubuh kedagingannya lebih senang untuk melakukan sebaliknya.

Taat gak mudah. Sudah dari dulu-dulunya begitu.

Tapi, yang gak mudah bukan berarti gak bisa. Kita hanya perlu berjuang lebih serius, lebih keras, dan lebih tulus untuk taat dan menyenangkan hatiNya.

MS