Panutanku

Written on 07/27/2020
Maria Shandi


Dear MS Friend,

Kita ini manusia biasa.

Yang lebih banyak lemah dari kuatnya. Yang lebih sering gagal dari berhasilnya. Terutama pas kita pengen hidup bener.

Sampai di satu titik, kita sampe nanya ke diri kita sendiri: “Mungkinkah aku hidup bener di hadapanNya sampai akhir?”

Saat kita goyah, yuk kita inget Panutan kita, Tuhan Yesus.

Dalam Kitab Yohanes, disampaikan kalo pada mulanya Ia adalah Firman dan Ia bersama-sama dengan Bapa. Dia yang menjadikan segala sesuatu, Dia terang dan gelap gak menguasaiNya.

Tapi, setelah manusia jatuh dalam dosa, Ia merasa perlu untuk turun sendiri dan ngasih contoh ke kita. Ia mengosongkan diriNya, menanggalkan kemuliaanNya dan disamakan dengan kita manusia yang fana.

Ia jadi manusia, hidup selayaknya manusia biasa, bertumbuh kembang, belajar, bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan bertanggung jawab kepada keluarga.

Dan saat Ia memulai pelayananNya, Ia mengalami berbagai macam penderitaan. Kelaparan, dikucilkan, dibenci, difitnah, kehilangan teman, dikhianati teman, gak punya tempat tinggal, terasing, dan penderitaan lainnya.

Tapi pun dalam keadaan menyedihkan dari kacamata manusia, Ia tetap buktikan bahwa taat sampai akhir itu bisa dilakukan.

Mesti lebih berat dan seringkali menyakitkan daging dan ego kita.

Bapa mengakuiNya sebagai “Anak yang dikasihi”, bukan hanya karena Dia memang bagian dari Bapa sebelum mengosongkan diri. Tapi, karena Ia telah lulus dan taat sampai akhir hidupNya di bumi.

Lalu, gimana dengan kita? Masihkah mau taat seperti Panutan kita?

MS