Haus

Haus

Written on 05/31/2019
Maria Shandi


Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan melayani di luar Indonesia. Perjalanan menuju ke tempat tersebut membutuhkan waktu beberapa jam penerbangan untuk transit di satu kota kemudian dilanjutkan dengan beberapa jam penerbangan berikutnya untuk tiba di tujuan. Saya termasuk salah satu fans berat air putih. Biasanya saya selalu membawanya ke mana pun saya pergi. Namun dikarenakan penerbangan internasional, saya tidak diperbolehkan membawa cairan apapun termasuk air putih untuk minum ke dalam kabin pesawat. Ternyata pesawat saya delay beberapa jam. Sehingga ketika tiba di kota transit, saya harus segera mengambil bagasi dan lapor untuk penerbangan berikutnya dikarenakan pindah pesawat. Karena waktunya yang sangat singkat untuk mengejar penerbangan berikut, saya tidak sempat membeli air putih. Haus sudah mulai terasa dan saya berencana untuk membayar rasa haus saya di dalam pesawat nanti.

Ketika pesawat sudah lepas landas, tibalah waktu yang saya nantikan yaitu pembagian makanan dan (yang terpenting) minuman. Karena ketika itu bulan puasa, pembagian makanan dan minuman didahulukan untuk orang-orang yang sedang akan berbuka puasa. Haus sudah sangat terasa, namun saya harus menunggu. Ketika tiba giliran saya, si air putih langsung saya minum dengan kalap. Setiap tegukan rasanya nikmat sekali. Setelah rasa haus saya terbayarkan, saya menyadari betapa tergantungnya saya dengan air. Air bukan bukan hanya menjadi kesukaan tapi sudah menjadi kebutuhan dasar yang melekat dalam hidup saya. Lalu saya merenungkan seharusnya kita pun memiliki ketergantungan kepada Tuhan lebih dari apa pun dan siapa pun. Tuhan bukan hanya sekedar pelengkap atau hobi tapi menjadi kebutuhan yang mutlak dan absolut. Seharusnya setiap orang percaya memiliki ketergantungan kepada Tuhan sampai di titik ini.

Saya menyadari, untuk bergantung kepada Tuhan, kita harus memiliki pengenalan akan Tuhan yang benar. Alkitab, buku atau artikel rohani, CD khotbah, pendalaman Alkitab, sekolah Alkitab dan sebagainya adalah sarana yang tepat untuk kita dapat semakin mengenal Tuhan dan pribadiNya. Persekutuan pribadi setiap hari dengan Tuhan juga menjadi bagian terpenting dalam pengenalan akan Tuhan, karena melalui itulah kita akan semakin memiliki kepekaan untuk mengerti kehendakNya. Melalui peristiwa hidup setiap hari, kita dibentuk menjadi seperti yang Tuhan kehendaki. Ketika kita mengerti kebenaran, setiap kejadian yang kita alami tidak lagi menjadi sunyi. Kita akan memiliki kepekaan atas apa yang Tuhan sedang sampaikan melalui setiap peristiwa hidup yang terjadi. Kita menyadari segala sesuatu yang kita alami, yang baik ataupun yang tidak baik menurut kacamata manusia, pada akhirnya semua mendatangkan kebaikan bagi keselamatan kita. Proses ini berlangsung setiap hari sampai akhirnya kita bisa memiliki pikiran dan perasaan Tuhan serta ketergantungan denganNya secara pantas.

Saya semakin menyadari bahwa sesungguhnya di dalam diri manusia ada rongga yang diciptakan oleh Tuhan dan hanya bisa diisi oleh Sang Pencipta yaitu Tuhan sendiri. Tapi di dunia yang makin fasik ini, tidak sedikit manusia yang mengisi rongga tersebut dengan jabatan, harta, barang mewah dan menjadi haus akan itu semua, sampai satu titik mereka terikat dan tidak bisa lagi mengisinya dengan Tuhan. Manusia yang biasa menyerap kebahagiaan dari benda dan manusia lainnya, kepuasannya pasti akan semakin menurun. Tanpa disadari, mereka tidak akan pernah terpuaskan. Bukan berarti tidak boleh mempunyai harta, barang mewah dan sebagainya, namun jangan sampai itu semua menjadi nilai diri yang menjadi sumber kebahagiaan kita dan membuat kita terikat. Seharusnya itu semua dijadikan sarana untuk membuat kita semakin efektif dalam memburu Tuhan dan memperbesar kerajaanNya di dunia ini.

 

Beda halnya ketika rongga hidup kita diisi oleh Tuhan, semakin lama akan semakin luar biasa, semakin bahagia dan dipuaskan. Kita bergantung kepadaNya bukan hanya dalam keadaan baik atau karena mengharapkan berkat secara jasmani, tapi dalam keadaan apapun Tuhan menjadi satu-satunya kebutuhan dan kebahagiaan dalam hidup kita. Sampai akhirnya kita memiliki ketergantungan penuh kepada Tuhan sehingga kita bisa berkata bahwa kita bisa hidup tanpa apa pun dan siapa pun, tapi kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Tuhan berkati