Pilihan

Pilihan

Written on 05/31/2019
Maria Shandi


Ketika di Sekolah Menengah Atas, sebelum naik ke kelas 2, saya  dihadapkan oleh dua pilihan yaitu mengambil kelas IPA atau IPS. Cukup lama saya bimbang karena di satu sisi saya lebih suka menghitung daripada  menghafal sehingga kelas IPA lebih menarik buat saya. Namun di sisi  lain, saya berencana kuliah akuntansi yang di mana pelajaran untuk mendukung akuntansi tersebut bisa saya dapatkan terlebih dahulu di kelas IPS. Setelah memikirkan sekian lama, akhirnya tibalah hari terakhir untuk  memutuskan dan kelas IPA lah yang saya pilih. Singkat cerita, tak  terasa masa SMA berakhir dan saya melanjutkan kuliah akuntansi. Ketika semester awal dimulai, saya sangat asing dengan pelajaran akuntansi karena di SMA saya sama sekali belum pernah mempelajarinya. Berbeda dengan teman-teman saya lainnya yang sejak SMA sudah mengambil kelas IPS sehingga sudah terlebih dahulu mempelajari akuntansi. Untuk beberapa bulan pertama, saya harus belajar lebih keras dibandingkan teman-teman kuliah saya yang lainnya dan ketika itu saya menyesal tidak mengambil  kelas IPS ketika SMA.

Pilihan saya ketika SMA mempengaruhi kuliah saya. Ketika merenungkan hal  ini, saya menyadari betapa pentingnya setiap keputusan yang kita ambil.  Pilihan kita hari ini menentukan masa depan kita. Jadi, bisa dikatakan bahwa nasib bukan ditentukan oleh siapa pun tapi ditentukan oleh pilihan kita. Hidup menjadi menarik karena manusia diberi kebebasan untuk memilih dan menentukan masa depannya. Seperti saya yang diberi kesempatan untuk memilih IPA atau IPS, Tuhan tidak mencegah saya untuk memilih IPA karena dengan kebebasan sebagai manusia, saya memutuskan untuk memilih kelas tersebut. Namun, untuk setiap pilihan yang kita ambil akan selalu ada konsekuensi atau hasil yang kita dapatkan. Hidup manusia bukanlah suratan takdir yang seakan-akan sudah ditentukan  orang-orang yang berhasil dan yang tidak, orang-orang yang masuk Surga dan yang tidak. Kalau seperti itu, tentu hidup menjadi tidak menarik dan manusia menjadi tidak bertanggung jawab atas hidupnya.

Walaupun manusia bebas untuk memilih, namun ada keadaan mutlak yang  sudah ditentukan Tuhan seperti jenis kelamin, suku dan keluarga. Sebagai  manusia, kita tidak bisa memilih dilahirkan sebagai pria atau wanita, menjadi orang Amerika atau Indonesia, lahir di keluarga biasa atau  konglomerat. Tetapi kita bisa memilih untuk menjadi wanita yang baik atau rusak, menjadi orang Indonesia yang baik atau rusak. Dan inilah  yang membuat hidup menjadi indah karena setiap pilihan kita akan berdampak bukan hanya di bumi tapi juga di kehidupan yang akan datang. Seperti saya yang tidak merancangkan untuk menyesal di semester awal kuliah karena tidak mengenal akuntasi terlebih dahulu di SMA, begitu pun juga tidak seorang pun yang merancangkan untuk sakit-sakitan, gagal bisnis, keluarga berantakan, masuk neraka dan hal buruk lainnya. Saya yakin, semua orang pasti merancangkan yang baik, namun pilihan merekalah yang pada akhirnya menentukan. Saya cukup sering membaca kisah  konglomerat yang lahir dari keluarga miskin tapi memilih untuk melawan  keadaan dengan bekerja keras sehingga pada akhirnya bisa sukses secara  finansial. Jadi, untuk menjadi berhasil itu pilihan, menjadi gagal itu otomatis. Masuk Surga itu pilihan, masuk neraka itu otomatis.

Tuhan merancangkan setiap kita untuk menjadi berhasil, bukan gagal. Tapi  pilihan di tangan kita untuk jaga kesehatan, belajar rajin, bekerja  keras, memilih teman pergaulan bahkan memilih pasangan hidup. Melalui  peristiwa akuntansi, saya belajar untuk lebih berhati-hati dalam memilih dan mengambil keputusan, mulai dari perkara kecil dan berusaha membiasakan diri setiap hari karena saya sadar pilihan saya di masa lalu menentukan hari ini dan pilihan saya hari ini akan menentukan masa depan saya. Di sisi lain, ada orang-orang khusus yang tidak bisa memilih dilahirkan dalam keadaan yang dianggap kurang. Namun biasanya di balik kekurangan itu ada kehebatan yang mengagumkan, terbukti seorang Fanny Crosby yang buta sejak masih bayi menjadi salah satu penulis lagu  Hymne terbanyak yang pernah ada dan sampai saat ini lagu-lagunya masih  dinyanyikan hampir di seluruh dunia. Jadi, setiap kita bisa mengukir  kehidupan yang baik dan lukisan kita di dunia akan memberi dampak pada  kekekalan.

Menyadari hal ini, selama ada di dunia, mari berusaha untuk serius memilih yang baik dan tidak menunda karena ketika kita menunda, secara  tidak sadar kita akan tergiring ke tempat yang salah. Contoh sederhana, misalnya ada seorang yang sejak kecil malas belajar, ketika besar tidak  bisa bekerja lalu masuk penjara karena mencuri. Di penjara tambah jahat, lalu meninggal dan masuk neraka. Artinya, bukan Tuhan yang menentukan dia masuk neraka, tapi pilihan dan keputusannya yang membawanya pada kekekalan yang tidak berkualitas. Kalau saat ini kita sedang ada dalam masa keterpurukan karena pilihan kita di masa lalu, mari belajar bertanggung jawab untuk membenahi keadaan kita. Percayalah Tuhan ada mendampingi kita karena kita adalah anakNya. Mari bereskan bagian kita dengan dewasa dan bijaksana, kalau pun ada hal-hal di luar kemampuan  kita, Tuhan pasti menopang. Ketika terpuruk masalah ekonomi karena pilihan yang salah di masa lalu, mari bertanggung jawab dengan kerja keras, hemat, jujur, mengelola uang dengan bijaksana. Ketika terpuruk masalah kesehatan karena keteledoran di masa lalu, mari bertanggung  jawab dengan memperbaiki pola makan, gerak dan istirahat. Tinggalkan masa lalu, mari memilih menjadi anak-anak Tuhan yang bertanggung jawab dengan baik dan pantas untuk masuk langit dan bumi yang baru. Tuhan  berkati