Mimpi Sang Ayah

Mimpi Sang Ayah

Written on 05/31/2019
Maria Shandi


Ayah yang biasa saya panggil daddy adalah seorang pekerja keras di mata saya. Integritas, semangat dan ketekunannya menjadi teladan hidup bagi saya. Suatu kali, karena urusan pekerjaan membuat daddy jadi sering pulang hingga larut  malam. Melihat daddy yang sedang lelah, saya yang ketika itu masih kecil dengan polosnya bertanya kenapa daddy harus cape-cape kerja sampai malam, kenapa gak main di rumah saja sama Yaya (panggilan saya di rumah). Saya ingat, sambil tersenyum daddy menjawab, "Daddy kerja keras supaya Yaya dan koko bisa jadi orang yang berkualitas di masa depan". Jawaban itu menjadi salah satu pendorong saya untuk belajar rajin di sekolah dan latihan musik setiap hari.

Ketika saya merenungkan kembali jawaban daddy, saya disadarkan kalau ayah di dunia saja rela berkorban demi tujuannya bagi anak-anaknya tercapai, apalagi Bapa di Surga melalui pengorbanan Tuhan Yesus, supaya setiap  anak-anakNya menjadi manusia yang berkualitas. Bukan hanya dalam kehidupan rohani (berdoa, belajar Alkitab) tapi juga berkualitas dalam kehidupan jasmani, menjadi manusia unggul dalam segala aspek. Ketika seseorang mengasihi Tuhan, dia pasti akan mengembangkan kemampuan dan potensi yang ada dalam dirinya sebagai tanggung jawab atas kehidupan yang Tuhan berikan.

Selain karena hobi, jawaban daddy menjadi salah satu penyemangat saya untuk latihan nyanyi. Saya tahu, daddy bekerja keras salah satunya supaya saya bisa belajar nyanyi dengan baik. Rasanya gak rela kalau jerih payah daddy saya balas dengan malas-malasan belajar. Saya pertama kali belajar nyanyi waktu umur sebelas tahun. Dari situ, saya berlatih 1 sampai 2  jam setiap hari. Semakin saya mengerti kebenaran, saya menyadari bahwa ketika kita mengembangkan seluruh potensi dalam hidup kita, itu adalah bagian dari ibadah yang menyenangkan Tuhan. Tuhan mengharapkan kita untuk mengasihiNya bukan hanya segenap hati dan jiwa, tapi juga segenap pikiran dan kekuatan kita. Artinya segala aspek dalam kehidupan kita harus dimaksimalkan.

Ada yang bilang kalau hidup seseorang ditentukan oleh takdir. Tapi menurut saya  kehidupan seseorang ditentukan oleh pilihannya masing-masing. Saya bisa saja dulu memilih untuk malas belajar nyanyi, tapi saya tidak akan sama seperti hari ini. Ketika kita mengasihi Tuhan, kita akan memilih untuk memaksimalkan potensi diri, tidak menjadi beban buat orang lain, berguna bahkan dibutuhkan di mana pun berada, menjadi berkat bagi semua orang, sehingga tujuan dari karya keselamatan Bapa bisa digenapi. Bagian kita adalah menemukan potensi yang luar biasa yang Tuhan taruh dalam hidup  kita dan mengembangkannya tanpa batas. Ketika menjadi manusia yang berkualitas tinggi, kita akan menjadi unggul di bidang yang Tuhan kehendaki, kita akan dibutuhkan dan kita diberkati, sehingga tanggung  jawab kita untuk meneruskan kabar baik tentang anugerah keselamatan bisa dilakukan dengan efektif sampai ke seluruh bumi.

Ketika  kita mengasihi Tuhan, kita tidak hanya mengembangkan potensi diri, tapi juga bertanggung jawab atas tubuh kita yang dimiliki Tuhan sehingga kita akan menjaganya dengan baik melalui makan makanan yang sehat, olahraga dan istirahat yang seimbang. Ketika kita sehat, kita bisa maksimal mengembangkan potensi diri dan menjadi efektif bagi Tuhan. Menjadi manusia yang berkualitas dimulai dari hal-hal sederhana yang kita lakukan setiap hari dengan maksimal. Baik kita makan, minum atau melakukan apapun, mari lakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan dan menjadi ibadah kita yang sejati. Ketika kita mengusahakan segala sesuatu yang terbaik berarti kita menyerahkan diri kita untuk Tuhan sehingga Dia bisa menuntun dan menempatkan di mana kita bisa menjadi berguna bagi pekerjaanNya. Tidak pernah ada kata terlambat, mari berjuang untuk menjadi manusia yang berkualitas bagi Tuhan. Tuhan berkati