Sekolah Kehidupan

Sekolah Kehidupan

Written on 05/31/2019
Maria Shandi


Salah satu momen yang paling saya tunggu ketika di sekolah dasar adalah pembagian rapor. Alasannya selain ingin membanggakan nilai rapor saya ke orang tua, ada hadiah yang dijanjikan guru saya untuk peringkat satu sampai lima. Hadiahnya cukup menarik bagi saya saat itu, voucher makan donat. Karena berusaha untuk mengejar nilai dan tentu saja donat, saya belajar dengan rajin dan biasanya berakhir dengan makan donat di akhir semester sambil tersenyum girang.

Ketika merenungkan hal ini, saya disadarkan tentang hal yang terpenting dalam kehidupan manusia yaitu keselamatan. Rancangan semula Tuhan adalah menciptakan manusia yang memiliki keserupaan dengan diriNya, tapi manusia pertama gagal. Keselamatan adalah usaha Tuhan untuk mengembalikan manusia ke rancangan semula seperti ketika manusia belum jatuh ke dalam dosa. Melalui penebusan Tuhan Yesus di kayu salib, manusia memperoleh anugerah keselamatan. Melalui anugerah itu, manusia ditebus dari cara hidupnya yang salah dan memperoleh kesempatan untuk menjadi manusia yang dikehendaki Tuhan sehingga layak untuk tinggal bersama denganNya selama-lamanya.

Ketika guru saya berjanji memberikan donat bagi peringkat lima besar, janji itu berlaku bagi semua murid di kelas tanpa terkecuali tapi tidak semua murid berhasil mendapatkannya. Untuk mewujudkan janji donat, diperlukan perjuangan yaitu belajar dengan rajin. Sekalipun saya mempercayai janji guru saya melalui perkataan dan pikiran tapi kalau tidak pernah belajar, saya pasti tidak akan mendapatkan donat yang dijanjikan itu. Sama halnya dengan keselamatan.

Janji keselamatan diberikan untuk semua manusia tapi bukan berarti manusia bisa mendapatkannya secara otomatis. Kita harus mewujudkan keselamatan itu bukan hanya percaya melalui perkataan dan pikiran tapi melalui tindakan nyata yaitu hidup sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Tuhan Yesus sudah berjuang begitu berat untuk manusia agar bisa dibebaskan dari kuasa dosa. Orang percaya harus meresponi perjuangan dan pengorbanan Tuhan Yesus sebagai tanggung jawab dengan sungguh-sungguh berjuang melawan kodrat dosa yang sudah melekat dalam diri manusia dan kemungkinan dosa yang masih bisa dilakukan di waktu mendatang. Orang percaya yang tidak memperjuangkan keselamatan ini berarti tidak bersedia diselamatkan dan menyia-nyiakan anugerah keselamatan tersebut.

Untuk mendapatkan nilai rapor yang baik, saya harus rajin membaca dan mempelajari buku pelajaran yang ada. Buku pelajaran sebagai sarana untuk mencapai nilai yang saya inginkan dan mewujudkan janji donat. Sama halnya dengan Injil yang merupakan sarana orang percaya untuk mewujudkan keselamatan yang Tuhan janjikan. Iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh Firman Kristus. Jadi, ketika kita mendalami Alkitab sebagai Injil yang murni, kita akan mengalami pembaharuan pikiran setiap hari sehingga kita semakin mengenal Tuhan dan kebenaranNya.

Saya ingat, dulu hampir setiap hari dengan sabar mama membimbing saya untuk mengerjakan tugas di rumah dan mempersiapkan saya untuk menghadapi ujian di sekolah. Peran mama sangatlah penting untuk hasil rapor saya. Sebagai orang yang selamat, kita bukan hanya dituntut untuk bermoral baik tapi sempurna seperti Tuhan Yesus. Artinya selama di dunia, kita berlatih hidup sebagai warga kerajaan Surga. Ini tidak cukup ditandai dengan rajin ke gereja, menjadi orang baik di mata manusia tapi perubahan cara hidup sesuai kehendak Bapa yang dimulai sejak sekarang dari perkara kecil dan berlanjut terus setiap hari. Menjadi manusia yang berbudi luhur sesuai hukum saja bukan suatu hal yang mudah, apalagi menjadi sempurna seperti Tuhan Yesus. Di sinilah pentingnya peran Roh Kudus yang akan menuntun kita kepada segala kebenaran sehingga kita dapat mengerti kehendak Bapa, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna.

Ketika saya meresponi janji donat, saya bersedia dilatih melalui tugas dan ujian yang diberikan oleh guru saya. Sewaktu mengerjakan ujian, saya tidak mungkin meminta guru saya untuk menyelesaikannya buat saya, walaupun saya tahu dia mampu. Sekalipun misalnya saya memuji-muji guru saya dengan mengatakan bahwa dia pintar dan tidak ada yang mustahil baginya untuk menyelesaikan soal-soal ujian saya. Saya yakin sebagai guru yang baik, dia tidak akan melakukan itu. Sama halnya ketika kita meresponi anugerah keselamatan, bukan berarti kita hanya memuji-muji Tuhan dengan harapan Tuhan akan menyelesaikan semua masalah dan kita diselamatkan secara otomatis.

Meresponi anugerah keselamatan berarti kita bersedia dilatih melalui sekolah kehidupan yang akan menggarap karakter kita. Kita menyadari bahwa Dia Tuhan yang maha baik yang ingin menyempurnakan kita melalui setiap peristiwa hidup yang terjadi. Masalah ekonomi akan membentuk kita untuk gali potensi, tekun, jujur, cerdas dan mengelola uang dengan baik. Masalah kesehatan akan membentuk kita untuk menjaga pola makan, istirahat dan olahraga yang seimbang. Bahkan orang-orang di sekitar kita yang terkesan tidak menyenangkan akan membentuk dan menyempurnakan karakter kita.

Perubahan ini tidak hanya membuat kita menjadi eksklusif dengan Tuhan saja tapi hidup kita pun menjadi terang dan garam serta berarti bagi orang lain. Tujuan akhir dari semua peristiwa hidup ini adalah sebagai sarana yang membentuk dan menyempurnakan kita untuk mewujudkan keselamatan yang Tuhan janjikan. Dan pada akhirnya saya menyadari bahwa segala perjuangan yang kita lakukan bukanlah sebagai jasa yang bisa kita banggakan karena keselamatan adalah anugerah, bukan karena perbuatan kita. Perjuangan kita adalah bentuk tanggung jawab dalam meresponi anugerah keselamatanNya. Mari berjuang mendapatkan rapor yang sempurna melalui sekolah kehidupan ini. Tuhan berkati