Menyelesaikan Dosa

Menyelesaikan Dosa

Written on 06/04/2019
Maria Shandi


Ketika aku masih kecil, orang tuaku memberikan beberapa peraturan rumah yang harus aku taati, seperti tidak boleh pulang terlalu malam, harus gosok gigi sebelum tidur, tidak boleh bertengkar dengan kakak dan peraturan lainnya. Dulu aku menaati peraturan rumah karena takut dimarahi oleh orang tuaku. Namun karena aku belum cukup mengerti tujuan dari peraturan itu, tak jarang aku melanggarnya berulang kali. Ketika aku beranjak besar, aku mulai terbiasa untuk menaati peraturan rumah, namun bukan karena takut dimarahi tapi karena aku tahu tujuan dari peraturan tersebut dan tidak mau mengecewakan orang tuaku.

Sebelum dewasa rohani, aku berpikir dosa hanyalah tindakan yang melanggar hukum atau moral secara umum. Namun setelah mengerti kebenaran, aku menyadari bahwa dosa adalah segala pikiran, ucapan dan tindakan yang tidak menyenangkan Tuhan. Oleh sebab itu, kalau kita menyelesaikan dosa seharusnya bukan hanya sebatas kita minta ampun kepada Tuhan atas perbuatan salah yang kita lakukan. Jika kita sekedar minta ampun dan tidak ada usaha untuk berubah, berarti kita hanya menjadikan Tuhan seperti tukang sapu yang membersihkan dosa dan bisa kembali kita kotori. Ketika kita menyelesaikan dosa seharusnya kita berusaha menghilangkan segala kemungkinan dosa yang bisa kita lakukan di waktu yang akan datang sehingga tidak terulang kembali. Ironisnya banyak orang yang meminta pengampunan dengan tujuan agar Tuhan memaafkan dan melupakan dosa mereka serta terhindar dari hukuman. Setelah minta ampun, mereka seakan-akan bisa berbuat dosa lagi, karena berpikir bahwa Tuhan Yang Maha Pengampun akan memaafkan kesalahan mereka walaupun tidak ada usaha untuk berubah.

Ketika kita dewasa rohani, permintaan maaf kita seharusnya disertai komitmen untuk tidak melakukan kesalahan yang sama dan mulai berjalan bersama dengan Tuhan. Pertobatan kita baru terbukti ketika sampai titik dimana kita membenci dosa yang kita lakukan dan berjuang sungguh-sungguh untuk tidak melakukannya kembali. Kalau tidak, berarti kita mempermainkan pengampunan Tuhan. Jadi harus ada perubahan nyata dimana kita tidak lagi melukai hati Tuhan tapi menyenangkan hatiNya, yaitu ketika ada kesempatan untuk berbuat dosa tapi kita memilih untuk tidak melakukannya. Disitulah kita membuat Tuhan tersenyum atas hidup kita.

Sesungguhnya semua perbuatan dosa kita telah diampuni oleh pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib. Yang belum selesai adalah keadaan diri kita yang masih berpotensi untuk melakukan dosa. Jadi ketika kita minta ampun kepada Tuhan, bukan hanya sekedar karena perbuatan dosa itu sendiri tapi karena keadaan diri kita yang masih berpotensi untuk melukai hati Tuhan. Hal ini membutuhkan usaha dan tindakan nyata kita untuk sungguh-sungguh berjuang menyelesaikan potensi berbuat dosa.

Oleh sebab itu, kecerdasan roh sangat diperlukan agar kita dapat mengenali potensi dosa apa yang mungkin kita lakukan. Untuk dapat memiliki kecerdasan roh, hati nurani kita harus dipupuk dengan kebenaran Firman Tuhan sampai kita bisa mengerti naluri, pikiran dan perasaan Tuhan. Selanjutnya Roh Kudus akan menuntun kita untuk bisa mengenali ketika pikiran, perkataan, dan tindakan kita tidak sesuai dengan kehendakNya sehingga kita bisa memperbaikinya. Jadi permohonan maaf kita kepada Tuhan, tidak hanya sebatas pada pelanggaran moral umum seperti membunuh, mencuri, dan sebagainya tapi ketika sikap hati kita tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Sikap hati yang salah akan lebih sulit untuk dikenali sehingga lebih sulit juga untuk ditinggalkan, seperti kesombongan, haus dihormati, cinta uang, ketidaktulusan, mudah tersinggung dan sebagainya. Sikap hati yang salah inilah yang menjadi potensi untuk kita melakukan dosa selanjutnya melalui tindakan nyata.

Ketika kita berjuang untuk menyelesaikan dosa, alasannya adalah karena kita mencintai Tuhan dan ingin menyenangkan hatiNya. Kita menyadari bahwa Tuhan Maha Hadir serta memiliki perasaan sehingga bisa disenangkan maupun terluka melalui sikap hati dan tindakan kita. Oleh sebab itu kapan pun dan di mana pun kita berada, seharusnya kita berusaha untuk menjaga perasaan Tuhan melalui pikiran, perkataan dan tindakan kita yang sesuai dengan kehendakNya. Pertobatan kita akan berlangsung setiap hari dan kita sungguh-sungguh berusaha untuk tidak jatuh pada lubang yang sama. Mari berjuang menyelesaikan dosa dan membuat Tuhan tersenyum melalui hidup kita.