Hari Ulang Tahunku

Hari Ulang Tahunku

Written on 06/04/2019
Maria Shandi


Ketika masih kecil, hari ulang tahun adalah hari yang paling aku nantikan.  Biasanya aku akan tidur lebih malam demi menunggu ucapan dari keluarga  dan teman-temanku. Rasanya sangat menyenangkan setiap kali menerima ucapan dari mereka, baik melalui telepon, kue ulang tahun, kado bahkan kejutan kedatangan mereka di depan rumah. Setelah beranjak dewasa, aku memiliki perasaan yang berbeda. Ucapan sederhana dari mereka yang  menyayangiku setiap hari jauh lebih berharga dibandingkan ucapan meriah  dari mereka yang menyapaku hanya setahun sekali. Perbuatan kasih yang  diungkapkan sehari-hari jauh lebih berarti dari perayaan yang dilakukan  setahun sekali.

Pengalaman ini menyadarkanku tentang perbuatan kasih kepada Tuhan. Seringkali tanpa disadari, banyak orang menjadikan hari besar agama seperti hari Paskah atau Natal sebagai hari yang spesial untuk Tuhan dibandingkan  hari-hari lainnya. Di hari itu, biasanya mereka merayakan dengan  perasaan haru dan syukur yang lebih dari hari biasanya. Tak jarang mereka mengekspresikannya melalui ucapan doa, nyanyian syahdu, disertai dengan tangisan dan ekspresi gerak tubuh mereka. Seakan-akan mereka berusaha memberikan sesuatu yang spesial di hari itu untuk Tuhan.

Padahal dalam kekristenan, tidak ada hari yang lebih dibandingkan hari-hari  lainnya. Semua hari berharga dimana melalui hari-hari tersebut kita mendapat kesempatan untuk membuktikan kasih kita kepada Tuhan. Perbuatan kasih kita berkualitas rendah jika hanya dilakukan setahun sekali dalam perayaan tertentu. Kasih kita akan terbukti ketika dalam keseharian hidup, kita selalu berusaha menyenangkan Tuhan melalui pikiran, ucapan dan tindakan kita.

Seperti kita menyayangi keluarga dan sahabat, kita akan berusaha untuk tidak  melukai hati mereka. Begitu pun kasih kita kepada Tuhan akan terlukis melalui tindakan kita yang tidak ingin melukai hatiNya. Sehingga kesucian hidup kita didasari oleh hati yang mencintai Tuhan dan ingin menyenangkan hatiNya. Karena Tuhan rela mati untuk kita, maka sudah sepantasnyanya kita pun rela mati bersamaNya. Mati bersama Tuhan adalah ketika kita berusaha melakukan kehendakNya walaupun harus menyalibkan perasaan kita.

Ketika kita mencintaiNya, kita akan memiliki persekutuan pribadi dengan Tuhan  setiap hari karena ingin mengenal selera dan perasaanNya. Kita akan mencintai kebenaran Firman Tuhan karena ingin mengenal PribadiNya. Sehingga kita bisa berpikir, berucap dan bertindak sesuai dengan selera Tuhan, bukan semau kita. Kita akan meresponi dengan tepat setiap peristiwa hidup yang membentuk dan menyempurnakan kita sampai akhirnya keakuan kita mati dan Tuhan bisa hidup atas kita. Inilah petualangan hidup yang luar biasa, ketika kita memiliki kesempatan untuk hidup sesuka hati namun kita memilih untuk hidup sesuai kehendakNya sebagai bukti cinta kepada Tuhan sepanjang waktu. Mari jadikan setiap hari kita  sebagai hari yang spesial bagi Tuhan.