Aku Adalah Prajurit

Aku Adalah Prajurit

Written on 06/04/2019
Maria Shandi


Ketika melayani di sebuah daerah, kami dijemput oleh seorang prajurit yang menjadi ajudan seorang komandan di daerah tersebut. Dalam perjalanan menuju tempat acara, kami saling berbagi cerita. Dalam pembicaraan kami, ada satu topik yang menarik perhatianku. Sang ajudan menceritakan tugasnya sehari-hari tentang pengabdiannya kepada sang komandan yang tidak mengenal waktu dimana dalam 24 jam dia hanya tidur kalau sang komandan tidur. Setelah itu dia akan sibuk mengurus segala keperluan sang komandan, termasuk menyediakan makanan yang disukai dan hal-hal lain menurut kebiasaannya. Oleh sebab itu, sang ajudan berusaha untuk mengerti selera dan kebiasaan komandannya agar bisa menyediakan apa yang diperlukan tanpa harus diminta. Karena hampir selalu bersama sang komandan, dia semakin mengerti pikiran, perasaan, kesukaan dan kebiasaan komandannya.

Ketika mendengar cerita ini, hatiku seakan bertanya, untuk manusia saja seseorang rela mengorbankan seluruh hidupnya termasuk waktu, keluarga dan kesenangan hidup lainnya demi mengabdi, bagaimana dengan kita sebagai prajurit yang berhutang hidup kepada Tuhan, Sang Komandan Agung kita? Kalau kita mengaku prajurit Tuhan, Raja segala raja, seharusnya pengabdian kita kepadaNya melebihi pengabdian sang ajudan. Sebagai prajurit Tuhan, kita akan mengabdi sepenuh waktu dan berusaha menemukan tempat untuk berjuang bagi kepentinganNya serta memberikan pelayanan yang tidak terbatas. Kita tidak akan mempersoalkan diri kita dengan perkara dunia karena fokus utama kita hanyalah berusaha untuk mendapatkan perkenanan dari Sang Pemilik Kehidupan.

Ketika kita mengerti dan menghayati status kita, merupakan suatu kehormatan kalau kita bisa menjadi prajurit yang mengerti pikiran dan perasaan Tuhan serta memberikan segenap hidup untuk mengabdi kepadaNya. Ironisnya, sangat sedikit orang yang mau berjuang untuk kepentingan Tuhan. Kebanyakan orang hanya berjuang untuk kepentingannya sendiri atau hanya memberikan dukungan sekedarnya untuk Tuhan. Karena motivasinya mengikut Tuhan hanyalah untuk menemukan nafkah dan kehidupan bagi dirinya sendiri.

Sebagai orang yang telah ditebus oleh darahNya, kita harus selalu terlibat dalam perjuangan bagi kepentingan kerajaan Tuhan. Tidak ada wilayah dimana kita tidak hidup untuk kepentinganNya. Pengabdian kita adalah sepenuh waktu dan segenap hidup. Oleh sebab itu, apa pun yang kita lakukan baik makan, minum, sekolah, bekerja, berkeluarga atau melakukan aktivitas yang lain, kita harus melakukannya untuk kemuliaan Tuhan.

Seperti sang ajudan yang berusaha peka terhadap selera komandannya sehingga dapat melayaninya dengan baik, demikian juga kita sebagai prajurit yang baik. Kita harus berusaha untuk mengerti selera Tuhan, bukan selera kita sendiri. Kita harus memiliki pikiran dan perasaan Tuhan sehingga pengabdian kita sungguh-sungguh menyenangkan hatiNya. Untuk dapat memiliki kepekaan, kita harus bergaul denganNya setiap hari melalui jam doa pribadi serta selalu menghayati kehadiran Tuhan kapan pun dan di mana pun kita berada. Dengan belajar Firman Tuhan, kita akan semakin mengenal Tuhan dan mengerti kehendakNya. Melalui peristiwa hidup setiap hari, Tuhan membentuk karakter kita agar dapat menjadi prajurit yang memiliki karakter Kristus. Mari menjadi prajurit Surgawi yang dapat diandalkan Tuhan.