Makna Pelayanan

Makna Pelayanan

Written on 06/04/2019
Maria Shandi


  1. Makna Pelayanan - Maria Shandi

Sekolah Minggu adalah wadah pertama dimana saya aktif dalam kegiatan gereja, dimulai dari singer, pemain keyboard, pemimpin penyembahan dan guru Sekolah Minggu. Lalu saya mulai aktif dalam kegiatan ibadah remaja dan pemuda. Tahun 2007 menjadi salah satu tahun yang berkesan buat saya karena di tahun itulah saya diberikan kesempatan untuk melayani melalui album perdana saya, Sentuh Hatiku. Sejak saat itu, saya mulai sibuk dengan berbagai undangan pelayanan gereja melalui kesaksian pujian. Walaupun tidak selalu, namun hampir setiap minggu saya memenuhi undangan gereja baik di dalam dan di luar Indonesia. Pelayanan bagi saya saat itu hanyalah ketika saya melayani di gereja saja. Dengan segudang aktivitas di gereja, pada saat itu saya merasa sudah melayani Tuhan dengan maksimal.

Ketika memahami kebenaran, saya menyadari bahwa pelayanan yang sesungguhnya adalah perjalanan hidup setiap hari di tempat dimana kita melakukan segala aktivitas kita, entah itu di rumah, toko, pasar, kantor, pergaulan, sekolah, kampus dan sebagainya. Pelayanan menjadi nyata ketika kita memancarkan karakter Kristus bukan hanya di gereja tapi di tengah-tengah masyarakat. Ironisnya, tidak sedikit orang yang rajin ke gereja bahkan aktif dalam organisasinya, tapi kehidupan setiap harinya tidak menjadi berkat bagi orang lain dan tidak menunjukkan bahwa mereka memiliki Tuhan Yesus. Pada dasarnya mereka belum melayani Tuhan karena karakter manusia berdosa mereka belum diubahkan. Tindakan mereka yang tidak berbelas kasihan kepada sesama, egois, kejam, angkuh, tidak mau mengerti orang lain seringkali melukai orang-orang yang ada di sekitarnya seperti pasangan hidup, anak, keluarga besar, asisten rumah tangga, supir, rekan kerja dan teman pergaulan.

Ketika kita mengerti bahwa pelayanan yang sesungguhnya adalah pelayanan sebagai terang dan garam dunia serta menjadi duta Kristus di mana pun berada, hidup kita akan membawa keharuman bagi sesama. Inilah pelayanan sepenuh waktu dan segenap hidup. Seluruh detak jantung, denyut nadi dan hembusan nafas kita adalah irama pelayanan yang tidak pernah berhenti. Kita tidak pernah berhenti menjadi pelayan Tuhan dan tidak pernah berhenti bertugas. Oleh sebab itu, kita harus memperlengkapi diri dengan sarana utama yaitu mengenakan pikiran dan perasaan Kristus. Kita harus terus bertumbuh dalam karakter sampai dapat mengenakan karakter Kristus.

Karakter yang baik adalah sarana pelayanan serta kesaksian yang paling efektif dan tidak dapat digantikan oleh apapun. Justru karakter kitalah yang menjadi jagoan utama dalam kehidupan kita untuk menampilkan diri sebagai saksi Kristus. Kekayaan dan berbagai fasilitas pelayanan lain menjadi tidak berarti jika karakter kita buruk, bahkan tidak jarang malah menjadi batu sandungan yang menutup mata orang lain terhadap kebenaran dan keindahan Injil. Mereka bisa berpikir tidak perlu menjadi Kristen jika kelakuan kita lebih buruk dari mereka. Kehidupan yang memperagakan pribadi Kristus bukanlah hasil dari pembelajaran beberapa bulan atau tahun tapi hasil dari proses panjang ketika kita sungguh-sungguh mematikan "kedagingan" kita, supaya Tuhan Yesus dapat hidup dan berkuasa di dalam diri kita.

Melalui kebenaran ini, kita akan menghayati bahwa setiap kita adalah hamba Tuhan. Pelayanan kita meliputi segenap hidup serta tidak terbatas ruang dan waktu. Pelayanan yang sesungguhnya adalah ketika kita menjadi maksimal dan terang di bidang manapun kita berada, baik itu di rumah sebagai ibu rumah tangga yang merawat keluarganya dengan baik, di sekolah sebagai pelajar yang baik dan berprestasi, di kantor sebagai pekerja yang jujur dan produktif, dan bidang lainnya. Ketika kita melakukan peran kita dengan maksimal dan melalui peran tersebut kita memancarkan pribadi Kristus, itulah pelayanan yang sejati. Mari melayani Tuhan dan membawa dampak bagi orang-orang di sekitar kita.